Openlutch Museum Trip
Chris tidak henti – hentinya memanjakan kami dengan mengajak
ke tempat wisata yang luar biasa. Hari minggu destinasinya ada di Openlutch
Museum, Arnhem City. Apakah anda sudah pernah ke Taman Mini Indonesia Indah
yang ada di Jakarta? Ya, kira – kira mirip itulah. Di sini anda akan menemukan
sejarah Belanda. Anda akan menemui berbagai bangunan tradisional masa lampau.
Sekolah – sekolah Belanda tidak mengajarkan sejarah bagaimana mereka menjajah
Indonesia. Hanya ada sejarah mereka dijajah oleh negara Jerman. Itu sesuatu
yang kelam bagi mereka. Bedanya dengan TMII tempat ini berada di tengah hutan
dan dingiiinnnn. hehehe
Sebelum memasuki museum, kami melihat alat musik
tradisional. Bentuknya unik memang. Lagu – lagu tidak diputar di kaset, tetapi
seperti sebuah buku kemudian dimasukkan ke dalam alat musik. Sang pemutar perlu
memutar pedal pada alat musik tersebut. Ternyata untuk memutarpun perlu dengan
seni. Tidak sembarangan aja memutar, harus tahu lagunya juga. Saya coba memutar
alat itu, hasil suaranya gak karuan. Tak lupa narsis di depan alat musik deh.




Tak lama kami langsung masuk ke museum. Chris menawarkan
apakah pertama naik kereta dulu? Kami jawab it’s oke. Ada kereta kecil yang
merupakan kereta listrik pertama kali yang ada di Belanda. Ternyata kereta
listrik itu udah lama ada di sini lo. Naiklah kami ke kereta itu dan bentuknya
klasik banget. Kereta dilengkapi dengan penghangat ruangan yang membuat kami
semakin nyaman saja. Ada rel yang mengelilingi berbagai rumah tradisional di
Belanda. Kami tidak berhenti dulu untuk
melihat – lihat rumah itu. Kami berhenti dulu di stasiun lobby museum untuk melihat
gambar 3D sejarah kehidupan tradisional Belanda. Saya belum pernah ke 4D yang
ada di Indonesia seperti apa (ndeso. Hehe). Jadi di sini ada beberapa gambar 3D
yang dikombinasikan dengan LCD proyektor. Kami memasuki sebuah ruangan seperti
bioskop. Ruangan itu bergerak kesamping, atas dan bawah secara memutar untuk
melihat gambar 3D yang didesain sangat menarik. Kami melihat berbagai keindahan
gambar di sana. Kami jadi tahu bagaimana kehidupan orang Belanda di masa
lampau. 20 menit telah berlalu dan acara tersebut sudah selesai.
Chris mengajak kami untuk melihat rumah – rumah tradisional.
Layaknya rumah adat yang ada di TMII. Bedanya, di setiap rumah ada orang yang
mendemontrasikan tertentu. Misalnya, ada rumah yang berfungsi sebagai pembuat
alat dari besi. Ada orang yang mendemontrasikan gimana membuat besi dengan alat
– alat manual dan bara api. Mereka
mendemontrasikan dengan bahasa Inggris atau Belanda. Beragam alat dan
tempat tinggal tradisional di Openlutch Museum.
Tempat yang paling menarik adalah rumah yang merupakan camp
orang Indonesia dan menceritakan tentang
sejarah datangnya 12.500 orang Maluku (Indonesia) ke Belanda. Mereka
didatangkan ke Belanda oleh KNIL. Orang – orang Maluku tersebut dibuatkan rumah
yang layak huni oleh pemerintah. Mereka disebar di masing – masing town 25
orang dan satu rumah. Anda bisa menemukan sample bumbu rempah Indonesia di
rumah ini.
Setelah capek berjalan dari satu rumah ke rumah yang lain,
akhirnya kami kembali ke lobby dengan naik kereta lagi. Bunga tulip berbagai warna kami lihat dalam perjalanan menuju lobby. Kami sempatkan untuk berfoto - foto di kebun bunga itu. Mumpung lagi mekar. Saya sangat beruntung pada saat di sini kami melihat bunga tulip yang begitu cantik. Belanda mampu merubah
sesuatu yang sebenarnya biasa menjadi sesuatu menarik. Pengelolaan tempat
wisata yang menurutku perlu dilakukan oleh Indonesia. Betapa kayanya Indonesia
akan keanekaragaman suku. Betapa banyaknya wisata alam Indonesia yang sangat
indah. Di Belanda semuanya rapi. Bahkan pohon yang ada di hutan pun kelihatan
ditata dengan rapi. Potensial Indonesia menjadi negara nomer wahid di bidang
pariwisata itu sangat tinggi. Saya berharap pemerintah membaca tulisan ini
supaya ada pembenahan yang nyata. Apabila tempat wisata banyak dikunjungi
wisatawan, maka akan menambah pendapatan negara.
Diposting oleh
arifpemenang
,
12.13
Dinner with Chris Willemsen Family.
Mobil sudah sampai di hotel dan kami melihat Irish dan pacarnya
menunggu kami. Orang Belanda itu ontime lo. Sekali gak tepat waktu, dikritik
habis oleh mereka. Jadi malu deh sering gak ontime. Sekitar setengah jam perjalanan kami sampai
di rumahnya Chris. Ini menjadi spesial Dinner karena ini adalah masakan asli
Belanda yang dimasak sendiri oleh istrinya.
Makanan dibuka dengan makanan kecil. Chris menuangkan orange
juice pada gelasku dan menuangkan wine ke istrinya, irish dan roy pacar irish.
Sebelum minum, kami tos dulu dengan mengucapkan “LEKA”. Dilanjutkan dengan
makan besar yang terdiri dari kentang, ikan tuna dan asparagus. Bagi mereka
asparagus adalah makanan istimewa karena hanya bisa dibeli di musim tertentu.
Tapi di Indonesia, itu sayuran yang lebih – lebih.
Banyak perbincangan yang menarik after Dinner. Chris
menceritakan tentang bagaimana kehidupannya dulu. Kenapa setiap makan tidak
pernah sisa makanan sedikitpun. Meskipun rasanya gak enak baginya. Dia
mengatakan, kalau kamu mengambil makanan kamu harus menghabiskan. Caranya,
jangan banyak ambil makanan sedikit dulu, kalau kurang ambil lagi. Dia
mempunyai 10 saudara. Dulu, saat makan dia selalu rebutan dengan saudaranya.
Chris juga menceritakan bagaimana dia memindahkan produksi
bisnis garmennya dari Kroasia ke Afrika Selatan. Di sana gaji pegawai hanya
300ribu rupiah. Chris membeli rumah besar yang ada kebun dan kolam renang di
sana hanya dengan mengeluarkan 20.000 euro. Murah bukan? Coba bandingkan dengan
Surabaya, harga disitu dapat rumah sangat kecil. Namun, ketika Chris sakit
semua bisnisnya goyah. Mulai kepala produksinya kena stroke sampai bencana alam
melanda kota tempat bisnisnya. Akhirnya bisnisnya dipindahkan ke China yang
gaji tenaga kerjanya 650ribu rupiah. Masih sangat murah dibandingkan dengan
Indonesia.
Tak mau kalah, Roy juga menceritakan kehidupan pribadinya.
Ternyata ayahnya adalah orang Indonesia. Kakeknya berasal dari Maluku. Kakeknya
adalah salah satu dari 12.500 orang dari Maluku yang dipindahkan ke Belanda.
Sedangkan neneknya berasal dari kota Surabaya. Kakeknya keluar dari komunitas
orang Maluku dan hidup sendiri di tengah – tengah orang Belanda. Kemudian
lahirlah ayahnya Roy. Ayahnya Roy menikah dengan orang asli Belanda sehingga
lahirlah dia. Roy tidak pernah berkumpul dengan orang Maluku. Menurutnya, hal
itu tidak membuatnya berkembang.
Lalu lintas juga menjadi perbincangan menarik. Di Indonesia
anda bisa ngebel sepuasnya, tapi jangan harap anda bisa melakukannya saat
berkendara di Belanda. Ngebel sembarangan, anda bisa didenda 200 euro (2,5 juta
rupiah). Anda tidak mengindahkan perintah polisi anda bisa didenda 1500 euro.
Di Belanda gak ada tilang. Jumlah denda akan dikirimkan ke rumah si pelanggar
melalui pos. Di setiap sudut jalan ada kamera. Polisi tidak perlu berjaga
setiap hari. Kecepatan anda melebihi peraturan lalu lintas juga akan kena denda
yang akan datang 2 minggu setelah anda melakukan kesalahan. So, meskipun gak
ada polisi jangan sekali – sekali melanggar peraturan lalu lintas di Belanda
ataupun negara eropa yang lain.
Chris menyajikan kami aneka keju. Dengan pedenya aku makan
keju yang keliatan enak itu. Begitu saya makan, rasanya sangat aneh. Seperti
bau kambing atau bau sapi melekat di tenggorokanku. Sangat tidak enak. Semua
pada menertawakanku. Setelah selesai kami pulang ke hotel diantar Irish dan
Roy. Roy banyak bercerita tentang hidupnya yang merupakan keturunan Indonesia.
Next Destination for tommorrow adalah ke Openlucth museum. See you...
Diposting oleh
arifpemenang
,
12.12
Kami punya kenalan orang keturunan Indonesia yang tinggal di
Belanda. Perkenalan itu karena temannya teman saya (bingung) menitipkan oleh –
oleh ke tantenya. Namanya adalah tante Ineke. Tante Ineke selalu mengajak
temannya tante Elisabeth untuk ketemu kami. Ayah tante Ineke adalah angkatan
laut Belanda yang berasal dari Indonesia. Sedangkan ibunya berasal dari
Belanda. Pada tahun 1966 tante Ineke
datang ke Belanda bersama keluarganya. Dia tinggal di negeri Belanda
sebagai pegawai pemerintah. Untuk tante Elisabeth, masih belum sempat dibahas
untuk hari ini.



Mereka mengajak kami jalan – jalan ke kota jerman untuk
membeli coklat. Akhirnya tante Ineke mengajak kami ke kota Kleve. Di sana ada
sebuah minimarket yang menjual aneka coklat made in germany dan swiss. Harganya
lebih murah dari Belanda. Di jerman pajaknya jauh lebih murah dari Belanda. Jadi
harga barang – barang kebutuhan di Belanda dua kali dari harga di Jerman. Jadi
cukup banyak warga Belanda yang datang ke Kleve sekedar untuk belanja kebutuhan
hidup. Jaraknya hanya 1 jam dari Otterlo tempat kami menginap.
Di Kleve kami mampir di sebuah tempat wisata yang berupa
kebun bunga. Tapi sayang banget, bulan ini bukan musim bunga untuk tumbuh. Jadi
hanya sedikit yang bisa kami nikmati. Sebagai ciri khas negara Eropa, dimana –
mana banyak dengan museum di tempat wisatanya. Setelah capek berfoto – foto
akhirnya kami mampir di sebuah restoran. Kalau di Belanda bingung dengan buku
menunya karena gak paham, di sini lebih gak ngerti lagi. Untungnya tante
Elisabeth menjelaskan makanan apa yang ada di menu. Soalnya berbeda dengan
restoran di Indonesia yang tampil penuh dengan gambar. Akhirnya kami memilih untuk memakan cake. Cake di Jerman gak begitu manis dan cocok
dengan lidah saya. Tekstur makanannya sangat lembut seperti es krim.


Selepas kenyang makan cake, kami ingin mengunjungi kota yang
lain. Destinasi selanjutnya adalah Oberhausen, 1 jam dari kota Dortmun. Mobil
berhenti di parkiran Oberhausen Centrum, mall yang ada di jerman. Memasuki mall
suhu terasa lebih hangat daripada di luar. Saya mampir disebuah ritel pakaian
seperti Matahari. Ada sebuah jaket berukuran S yang menurut saya bagus. Saya
pikir kecil, ternyata size orang Eropa sama Indonesia berbeda. Badan sebesar
ini cukup memakai ukuran S. Saya belilah jaket itu memakai kartu kredit.
Hehehehe
Tante Ineke mengajak kami untuk menikmati makanan di Jerman.
Food court di mall Oberhausen Centrum dipenuhi sesak orang. Saya banyak
menemukan orang jilbab di sini. Tante Ineke memilihkan makanan yang berlabel
halal. Di Eropa untuk menikmati makanan halal, bisa di restoran Turki. Piliihan
jatuh di Mr. Chicken dan kami membeli downer ayam. Semacam makanan kebab dan
isinya adalah ayam. Porsi makanan di Eropa itu besar lo. Saya dan mbak Rizki yang
tinggal Indonesia tidak kuat untuk menghabiskan makanan itu. Mengingat nanti
jam 18.00 ada janjian makan malam dengan Chris, maka kami segera kembali ke
Hotel.
Di kota Otterlo saya menginap di hotel Grand Kruller, salah
satu hotel terkenal di kota ini. Tempatnya sederhana tetapi sangat menarik.
Anda perlu mengeluarkan sekitar 60 euro per malam untuk menginap di sini. Tidak
banyak fasilitas di hotel ini emang, mulai dari sikat gigi, shampo, cutton but,
dan lainnya standarnya disediakan. Tetapi saya hanya menemui sabun mandi saja.
Kami sangat beruntung karena chris memilihkan hotel terbaik menurut dia, dan
saya pun juga berpendapat demikian.
Di
Belanda, AC tidak laku karena cuaca sangat dingin sehingga mereka lebih
menggunakan penghangat ruangan. Grand Kruller juga merupakan salah satu hotel
tertua di kawasan wisata Hellen Kruller. Otterlo adalah wisata alam terbaik di
Belanda. Mungkin kalau di Jawa Timur seperti Malang yang ramai dikunjungi
setiap weekend.
Grand Kruller tampak seperti hotel yang sederhana. Akan
tetapi kecanggihan teknologinya buat aku tercengang. Lampu akan menyala sendiri
dengan detektor panas tubuh orang. Pada saat meninggalkan lokasi atau ruangan,
maka lampu akan mati dengan sendirinya. Teknologi yang bisa menghemat listrik.
Selain sebagai hotel, grand kruller juga menyediakan berbagai makanan untuk
wisatawan. Lebih tepatnya juga bisa sebagai restoran. Menurut saya makanan di
sini sangat mahal. Bagaimana tidak, perlu mengeluarkan 20 Euro (250rb rupiah)
untuk makan yang sederhana, dengan makan utama kentang goreng/ roti dan lauknya
ikan putih. Kalau di Indonesia sudah bisa makan di restoran mewah.
Chris dan keluarga mengajak kami wisata bareng ke museum
Hellen Kruller. Tiket masuk kawasan wisata itu seharga 17 Euro. Di tiket itu
ada tulisan “gratis tiket”. Awalnya saya mengira bahwa tiket ini gratis.
Setelah saya tanya ke Chris, maksud dari tulisan itu adalah tiket sudah dibeli
secara online. Masuklah kami ketempat wisata. Membuka gerbang hanya dengan
memasukkan tiket yang berupa lembaran kertas. Gerbang itu secara otomatis
terbuka. Di Belanda, tidak ada tukang parkir di tempat parkir. Semua memakai
mesin otomatis pembuka. Saya melihat chris mengeluarkan 8 euro untuk parkir
bandara. Pembayaran semacam menggunakan ATM atau Credit Card.
Begitu keluar dari mobil, udara sangat dingin. Saya, mbak
Rizki, Chris, Mrs. Chris dan Irish berjalan menuju museum. Pintunya juga serba
otomatis. Bekalnya adalah tiket yang dibawa itu sebagai pembuka pintunya.
Kami diberikan sebuah remote penerjemah sebagai
gantinya pemandu wisata. Di setiap lukisan ada sebuah sensor, apabila remote
itu didekatkan maka akan ada deteksi sejarah lukisan. Remote itu mengeluarkan
suara dalam bahasa inggris untuk menceritakan sejarah lukisan. Memasuki museum
kami disajikan aneka bebatuan yang unik. Agak masuk ke dalam banyak lukisan –
lukisan yang megah (menurut yang ngerti. Hehehe). Kalau saya mah gak ngarti
tentang karya lukis. Dulu saya hanya mendengarkan sejarah tentang seorang
pelukis terkenal. Sekarang alhamdulillah saya bisa melihat hasil karya pelukis
itu secara langsung. Hasil karya pelukis paling terkenal seantero jagad juga
merupakan koleksi Hellen Kruller. Siapa yang gak kenal Vincent Van Gogh dan
Pablo Picasso. Satu karya Van Gogh yang paling murah seharga 15 juta euro atau
setara 180 Miliar. Woowww Amazing bukan. Di museum Hellen Kruller atau ratusan
lukisan era tahun 1800an. Ada juga salah satu pelukis terkenal yang lahir di
Purwokerto Indonesia pada masa penjajahan. Namanya Joon Toorop. Bingung antara
bangga tau gak ya. Hehehe
Vincent Van Gogh, cerita yang sangat menarik tentang
biografinya. Dia adalah seorang pelukis terkenal. Tapi siapa yang menyangka,
dia adalah orang yang sangat miskin. Untuk menyelesaikan lukisan memerlukan
waktu yang lama karena tidak punya bahan untuk melukis. Jadi dia selalu
mencicil lukisannya. Pernah dia menyukai seorang wanita pelacur. Bahkan dia
rela mengiris telinganya untuk diberikan kepada orang yang dicintainya.
Ternyata cara yang dilakukannya itu membuat sang wanita ketakutan. Van Gogh
meninggal dalam keadaan miskin dan menyedihkan. Ciri khas lukisan Van Gogh adalah
berupa titik titik. Lukisannya laku dengan harga mahal setelah beberapa tahun
sang pelukis meninggal. Nasibnya sangat berbeda dengan Pablo Picasso. Sama –
sama pelukis, tapi Pablo Picasso adalah pelukis yang sangat kaya di masa
hidupnya. Apa yang membedakan? Kalau menurut saya adalah seni marketingnya. Van
Gogh punya kemampuan melukis tetapi tidak bisa menjual, sedangkan Pablo Picasso
adalah seorang pelukis yang mempunyai kemampuan marketing yang bagus.
Selesai menikmati hasil karya lukis di museum, saatnya
menikmati area alamnya. Kami melihat banyak pemandangan menarik di sana. Semua
diabadikan dalam kamera. Banyak nama – nama bunga yang diberitahu sama Chris. Tetap
saja susah cara ejanya. Setelah puas berfoto – foto dilanjutkan dengan
bersepeda di kawasan itu. Oh ya, museum Hellen Kruller itu berada di tengah
hutan. Di kamar saya, ada foto kawasan ini saat musim salju. So Beautifull.
Dilanjutkan acara untuk bersepeda di jalur
khusus. Disediakan sepeda gratis untuk mengelilingi seluruh kawasan itu. Tiba –
tiba turun hujan es. Kami mampir di tempat pondokan yang biasanya digunakan
untuk melihat binatang buas oleh wisatawan. Hujan membuat kami kedinginan, suhu
menginjak sekitar 5 derajat celcius. Chris kemudian mengajak kami kembali ke
hotel. Sebelum ke hotel kami mampir dulu di Cafe (lupa karena namanya susah)
untuk meminum coklat panas dan pie apel. Kami berbincang layaknya keluarga.
Chris ingin menunjukan toko baju muslim di kota Arnhem. Kami
tidak jadi kembali ke hotel. Mobil Chris parkir di tempat khusus di sekitar
sungai. Kami berjalan cukup jauh untuk sampai di pusat perbelanjaan kota
Arnhem. Walaupun usia Chris dan istrinya sudah tua, tetapi seperti gak kenal
capek. Kami yang masih muda aja kalah. Setelah berjalan sekitar 10 menit
sampailah kami di pusat perbelanjaan kota Arnhem. Susunan bangunannya sangat
bagus seperti luar negeri #eh emang diluar negeri. Hehehehe
Hanya sepeda, kendaraan yang bisa melintasi kawasan ini.
Tapi kebanyakan adalah yang berjalan kaki. Kami mampir dari satu toko ke toko
yang lain. Kalau di Surabaya, setiap memasuki mall akan terasa lebih dingin.
Kalau di Arnhem, setiap memasuki mall akan terasa lebih hangat. Kami melihat
harga – harga barang di sini. Sangat mahal untuk ukuran orang Indonesia yang
UMKnya 2 jutaan.
Sekitar 2 jam kami berkeliling, lapar sudah mulai melilit.
Chris memberikan hadiah istimewa bagi kami. Chris mengajak kami ke restoran
Indonesia. Restoran dengan desain interior jawa. Kami disambut dengan hangat
begitu mengetahui saya dan mbak Rizki adalah orang Indonesia. Cukup senang kami
bisa berbahasa Indonesia di Arnhem. Kami memilih makanan nasi goreng dan es
cendol. Begitu disajikan saya tanya ke pelayannya, “yang mana mengandung babi?”.
Dia menjawab bahwa semua makanan mengandung bagi #matiiihhh. Akhirnya saya
minta untuk ditukar. Sang pemilik meyakinkan bahwa orang yang memasak juga
tidak makan babi. Jadi kami memakan makanan yang halal.
Selesai makan, akhirnya kami pulang ke hotel. Saya meminta
ke Chris untuk pulang sendiri. Akhirnya kami naik bus untuk menuju kota
Otterlo. Bus di Belanda gak ada yang jelek. Seperti ada standar khusus sebagai
kendaraan umum. Saya juga melihat Bus bertenaga listrik yang di atas ada
talinya. Sayang banget untuk menuju Otterlo gak ada Bus Listrik. Kami datang ke
tempat pemberhentian bus seperti sebuah lorong. Masuklah kami ke Bus. Sebelum
duduk, penumpang diharuskan untuk membayar dulu. Ada juga yang menggunakan
kartu langganan dengan sensor infra red. Seperti busway, penumpang tidak bisa
turun seenaknya. Sudah disediakan halte untuk pemberhentian bus. Saya juga
tidak melihat mobil menyalip di jalan dua jalur. Kalau di jalan satu jalur atau
satu arah baru mereka menyalip. Untuk berhenti, ada fasilitas bel dan layar
lokasi halte terdekat ada di screen. Jadi sebelum turun penumpang bisa melihat
halte mana di depan dan penumpang memencet bel sebelum bus sampai di halte.
Selain itu, bisa juga internetan di dalam bus lo, karena ada wifinya. Sampailah
kami di hotel. Sampai jumpa di cerita selanjutnya ya....

Ingat catatan saya tentang LOA itu ada? Ya ini adalah lanjutan dari mimpi - mimpiku yang aku tulis 5 tahun yang lalu dan saat ini sudah tercapai. Perjalanan via Garuda Airlines. Setelah 20 jam lebih perjalanan dari Jakarta akhirnya sampai
juga kami di Schipol Airport Nederland pada pukul 07.30 WIB (Waktu Indonesia
Belanda. hehehe). Oh ya, saya beruntung karena diajak teman saya mbak Riski untuk mengikuti pelatihan
bisnis di negeri Belanda. Jadi saya berkesempatan untuk mengunjungi negara nan
jauh di sana. Sebuah negara yang belum pernah saya bayangkan sebelumnya.
Bandara milik Belanda ini benar – benar besar. Sampai kaki
bengkak baru nyampai di pintu keluar. Mr Chris
t Willemsen pengusaha yang membina kami, sudah menyambut kedatangan
kami di pintu keluar. Sebelum menuju parkiran kami melihat tulisan AMSTERDAM
yang ternyata ada di depan bandara. Tak lupa narsis juga di bunga tulip merah
yang sangat menawan, seelok wajahmu #eaaaaa.
Langsung saja bersama Mr. Christ Willemsen
(panggilannya christ) kami menuju tempat kami menginap di kota Otterlo.
Jarak tempuh 200 km hanya sekitar 1,5 jam karena kebetulan jalannya cukup sepi
mengingat pada saat saya datang adalah hari libur. Maka sampailah kami di hotel
Kruller, hotel yang sederhana namun sangat indah. Saya mendapat kamar paling
atas dengan fasilitas bisa membuka genteng untuk menikmati pemandangan sekitar
hotel. Dulu aku mengira bahwa Belanda itu hanya memiliki gedung yang tinggi,
ternyata selama aku di sana hanya melewati persawahan dan hutan. Sawah – sawah
yang hanya dipenuhi oleh rumput dan binatang ternak. Saat perjalanan ke Otterlo
saya dapat melihat berbagai hewan ternak seperti sapi, ayam, kuda, babi dan
banteng. Semua hewan itu gemuk – gemuk. Saya tidak tahu teknologi apa yang
digunakan untuk membuat seperti itu.
Selepas mandi di hotel, Christ mengajak saya untuk
mengunjungi rumahnya dan bertemu dengan istri beliau. Selama perjalanan kami
menemui banyak hal yang menarik. Mulai tempat yang bernama tempat kemerdekaan
Nelson Mandela, kapal kecil yang digunakan sebagai hotel, jalur khusus sepeda
di hutan, jalur mobil berada di kanan dan sisi sopir mobil ada di kiri, kota –
kota dengan bangunan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Orang di Belanda
paling banyak mengendarai sepeda sebagai transportasi jarak dekat. Di sini
jarang terlihat motor, hanya satu motor matic yang saya lihat selama
perjalanan. Kuusahakan selalu bercakap dengan Christ walaupun bahasa inggrisku
gak begitu bagus. Menanyakan hal yang belum aku ketahui di Belanda.
Mobil kami memasuki komplex perumahan Christ. Semua rumah di
komplex ini mempunyai kebun di depan maupun belakang rumah. Rumah kecil tetapi
desainnya sangat menarik. Penyusunan ruang dan tata letak interior yang membuat
rumah menjadi nyaman. Di sanalah kami disambut oleh Mrs.
Christ Willemsen yang sangat ramah. Banyak
suguhan yang diberikan kepada kami. Kemudian berjalanlah kami di belakang rumah
dan Christ meminjam kami sepeda. Kami kemudian bersepeda sekitar perumahan dan
sampailah ke peternakan kuda. Tak lupa kami bernarsis ria untuk berfoto – foto
di area itu. Setelah capek narsis,
kami kembali di rumah. Kami disuguhi teh dari berbagai merek. Orang sini
meminum teh atau kopi tanpa
memakai gula. Apabila ingin minum air putih cukup dengan air dari kran. Karena airnya emang untuk minum.
Desain pintu depan
rumah dibuat dobel. Setelah aku tanya ke Mrs. Christ Willemsen, dibuat dobel
supaya angin gak bisa masuk ke dalam rumah saat angin kencang atau ada salju.
Christ
mengajak kami ke pasar malam di kota Arnhem. Acara ini hanya dilakukan setahun
sekali, itupun hanya sehari. Kami sungguh beruntung bisa
mendatangi festival itu.
Desain festival pasar malam itu seperti bazar di
Surabaya. Pedagang mendirikan stand di area jalan raya. Saya jadi tahu bahwa
gratis, korting, kantor itu adalah bahasa belanda. Saya juga melihat penjual
sate dan lumpia di festival ini. Senang sekali ada makanan Indonesia di sini. Sayang,
satenya adalah sate babi dan penjual berasal dari negara Suriname. Penjual
lumpia yang merupakan makanan khas semarang juga dijual oleh orang vietnam.
Kami mencoba
berbagai makanan yang ada di sana. Untuk berhati – hati saya tidak makan
daging, kecuali seafood. Mampirlah kami di sebuah stand yang menjual makanan
yang unik. Diberikanlah tester sebuah makanan yang bentuknya aneh. Emang lidah
Indonesia, makanan saya muntahkan dan saya buang ke tempat sampah. Gimana gak
aneh, kulit paprika dan di dalamnya ada keju. Kebayang gak rasaya itu makanan.
Terus saya nyoba udang, ternyata enak rasanya. Christ membelikan kami udang
itu, harganya cukup mencengangkan. 5 euro untuk camilan sederhana itu. Kemudian
dilanjutkan belanja keperluan mandi, karena saya pikir di hotel sudah lengkap
peralatan mandi. Ternyata hanya ada sabun aja. Masuklah saya di sebuah
Minimarket. Saya ingin membeli shampo, sikat gigi dan pasta gigi. Harganya
gila, mahal banget buat orang Indonesia.
Beli tiga produk itu yang harusnya cuma habis 20 ribuan rupiah menjadi 7 Euro
alias 90 ribuan rupiah. Itupun saya hanya ambil produk yang paling murah. Di
sini ada koin yang nilainya 2 euro, 26 ribu rupiah. Di Indonesia, uang seribuan
aja udah pake kertas.

Capek kami
berjalan ke sana kemari, akhirnya kami kembali ke rumah Christ dan dilanjutkan
kembali ke hotel tempat kami menginap, kota Otterlo. Sampai di hotel kami
dinner bersama. Melihat menu, jadi salah tingkah. Semua dalam bahasa Belanda.
Terus dijelaskan satu persatu sama Christ makanan apa itu. Ternyata sama aja,
saya gak tau jenis makanan yang dijelaskan oleh chris. Akhirnya saya dan mbak
riski memilih makanan yang berasal dari ikan karena gak perlu disembelih.
Dinner kali ini jatuh pada menu ikan putih. Jangan mengharapkan nasi di kota
ini. Makanan di sini lebih banyak menggunakan pasta. Jangan berharap makanan
dengan bumbu rempah atau pedas. Jadinya sangat aneh di lidah. Setelah itu
lanjut ke kamar dan tidur. Di musim ini jarak Isya’ dan subuh hanya 3 jam.
Isya’ jam 12 malem dan Subuh jam 03 pagi. Siangnya juga lebih lama dari
Indonesia. Matahari terbit sekitar jam 5 pagi dan tenggelam sekitar jam 9
malam. Jadi cukup susah untuk mengatur waktu. Sampai jumpa dengan cerita menarik lainnya.